kebudayaan papua dan melayu

Suku/Budaya Papua :

1.  Ciri Khas

  • Penduduk Papua terdiri dari kelompok ethnis (kelompok suku) yang mempunyai keunikan tertentu, seperti bahasa, adat istiadat dan sebagainya.
  • Di Papua terdapat hampir ± 250 macam bahasa sesuai dengan kelompok suku yang berada di daerah ini. tiap kelompok suku mengenal sistem strata (kelas) dalam masyarakat (penduduk). Strata penduduk diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor tertentu seperti keturunan, kekayaan dan sebagainya.
  • Strata ini diwarisi secara turun temurun dengan nama dan struktur yang berbeda dan tiap suku, dan strata ini dapat mempengaruhi kepemimpinan dalam masyarakat atau Kepemimpinan Seseorang.
  • Kebudayaan penduduk asli Papua mempunyai persamaan dengan penduduk asli beberapa negara Pasifik Selatan maupun Rumpun, Malanesia. Kebudayaan penduduk asli di daerah-daerah pedalaman Papua kebanyakan masih asli (tradisional) dan sulit untuk dilepaskan dan sangat kuat pengaruhnya.

2.  Tokoh Utama

  • Kemudian pemerintah Belanda mengangkat ondowafi sebagai pejabat resmi dan korano. Ondowfi ialah orng yang ahli dalam adat istiadat. Korano ialah orang yang tugasnya membantu pemerintahan yang melek huruf dan mempunyai hubungan dengan orang luar.

3.  Sistem Komunikasi

Berkomunikasi dengan handphone

Orang Papua Paling `Boros` Gunakan HP

Kapanlagi.com – Masyarakat Papua, tampaknya paling `boros` dalam menggunakan telepon seluler di Kawasan Timur Indonesia,

General Manager (GM) Sales and Customer Services Telkomsel Regional Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya (Sulmalirja) Bambang Supriyogo menuturkan di Jayapura, Selasa, ARPU Telkomsel di wilayah paling timur Indonesia itu mencapai Rp500.000 lebih tiap bulan, melebihi ARPU Telkomsel di Makassar yang hanya sekitar Rp250.000 pada tahun 2004.dan ada pelanggan baru sebesar 52.000

Bambang menilai, sulitnya komunikasi antarwarga akibat kondisi geografis Papua yang terdiri atas pegunungan dengan transportasi yang terbatas, menyebabkan mereka antusias menggunakan telepon seluler. Hambatan komunikasi yang terjadi karena jarak yang berjauhan secara berangsur-angsur bisa dikurangi.

“Kondisi itu ditunjang daya beli masyarakat Papua yang cukup tinggi dan perilaku mereka juga cenderung mengikuti perkembangan jaman, ditambah lagi jaringan Telkomsel di Papua sudah dapat menjangkau seluruh kabupaten,” ujarnya.

Budaya Papua yang menurut Ketua Kelompok Tri Habibi Zusma memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia. “Masyarakat Papua biasa bersorak-sorak sebagai bagian dari cara mereka berkomunikasi dengan orang lain,”.

Desa di Pnatai Utara Irian Jaya menunjukkan suatu kehidupan berkomuniti yang lesu dan sifat apatis yang menyedihkan. Penyakit kronis yang menghinggapi kehidupan komuniti di desa pantai di distrik pantai utara adalah penyakit tak ada kepemimpinan. Dan sebabnya adalah tak ada tenaga pemimpin, gejala migrasi, dan karena tak adanya upacara yang memelihar kesatuan dan rasa identitas diri komuniti sejak 1920.

Karena pada dasarnya aktivitas-aktivitas mereka tidak membutuhkan gotong royong, hampir dalam segala hal dilakukan dalam batas kekeluargaan tertentu. Pada umumnya adat gift exchange itu merupakan rasa bersaing dan wajib balas bukan rasa menolong atau rela memberi.

4.  Hambatan Komunikasi

Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

Berkaitan dengan gangguan komunikasi di papua mengenai isu-isu negative yang beredar di masyarakat mengenai terror di masyarakat papua, mengenai penyerangan markas kepolisian , pembunuhan warga sipil dan perusakan fasilitas umum, hal ini tentu sangat meresahkan masyarakat di kota tersebut dan melumpuhkan aktivitas di kota itu. Untuk itu peran-peran para kepala suku, paguyuban dan tokoh pemuda disana sangat menentukan bagaimana cara menghilangkan konflik di tengah masyarakat papua tersebut.

Miskomuniksi Budaya

Hubungan sosial kemasyarakatan antara penduduk asli Papua dengan pendatang nampak lebih nampak dengan orang yang memiliki agama yang sama (Protestan/Katolik) misalnya dari Ambon dan Toraja. Sedangkan orang Manado dan Ternate dianggap orang yang ‘netral’ dan fleksibel dalam pergaulan. Mengapa orang Ternate lebih dekat dengan orang papua? Kemungkinan ada tali sejarah bahwa Papua adalah wilayah kekuasaan raja Tidore dan dianggap sama dengan warga muslim yang ada di Fakfak. Berlainan dengan orang Jawa dan Bugis-Makassar yang kebanyakan muslim, banyak melakukan kontak dalam bentuk hubungan atasan dengan bawahan (Jawa) atau hubungan jual-beli (Bugis-Makassar). Dilihat dari kasus bentrok fisik kebanyakan terjadi dengan orang Bugis-Makassar yang kental dengan budaya siri’.

Orang Jawa yang kebanyakan tinggal di wilayah transmigrasi justru menjadi sasaran    teror, penipuan dan penganiayaan dari suku asli setempat. Terutama berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran adat yang dianggap aneh oleh orang jawa. Misalnya sengketa tanah yang belum memiliki pelepasan adat – walaupun sudah bersertifikat, akan digugat secara adat. Korban perkelahian atau kecelakaan lalu lintas harus membayar ‘uang darah’ yang dinilai tinggi oleh pelaku. Demikian juga merusak harta seperti menebang pohon tanaman, menabrak binatang peliharaan akan dikenai bayar denda adat. Masing-masing kelompok suku memiliki kepala suku yang menentukan bentuk dan besarnya denda adat. Komunikasi multikultural adalah pengakuan terhadap pluralitas dengan mengkaji upaya manusia untuk melewati jarak budaya orang lain yang asing baginya guna membangun sebuah masyarakat global yang penuh persahabatan dan perdamaian.

Suku/Budaya Melayu :

1.Ciri Khas

Kajian orang Melayu tidak lepas dari kajian psikologis sosial yang meliputi sifat-sifat motivasi, proses-proses psikologis, sikap-sikap, konflik, dan proses penyelesaian konflik.

  • Motivasi

Orang Melayu pada mulanya suka hidup sederhana dengan bergantung kepada alam dan menciptakan teknologi terbatas. Jarang terdapat kondisi psikologi dan semangat juang untuk meningkatkan taraf hidup. Dalam menikmati hidup sederhana, sikap terhadap orang lain dan reaksi terhadap keadaan dan alam sekeliling senantiasa mengandung nilai kesederhanaan. Orang Melayu yang baik selalu merendahkan diri dan tidak menonjolkan diri, tidak mau memaksakan kemauannya jika kemauan itu bertentangan dengan kemauan orang lain, dan senantiasa sahaja, serta bersedia kompromi. Sikap Melayu yang demikian memberikan kesempatan kepada golongan etnis lain untuk memimpin kelompok Melayu.

Orang Melayu lebih berani terhadap etnis sendiri dibandingkan dengan etnis lain. Ketegasan bukanlah sikap orang Melayu. Orang Melayu enggan menghadapi konflik yang memerlukan penasihat dan memerlukan energi dalam jangka waktu panjang. Akibatnya orang Melayu sering dihina. Orang Melayu tidak pernah mempertimbangkan sesuatu dengan matang dan selalu berusaha melepaskan diri dari kesulitan atas keputusan yang diambil.

  • Agama

Semua dorongan keras yang bertentangan dengan hukum agama dipandang rendah oleh orang Melayu serta dianggap tidak cocok dan tercela dalam pandangan masyarakat. Pengaruh kekuatan agama terhadap takdir menyebabkan orang Melayu berpandangan bahwa segala sesuatu telah digariskan oleh Tuhan. Demikian pula rezeki tidak akan melebihi dari apa yang diberikan oleh Tuhan.

  • Orientasi Waktu

Orang Melayu tidak terikat pada waktu, akan tetapi kehidupan manusia sangat dihargainya. Banyak waktu orang Melayu yang terbuang percuma, seperti untuk mengobrol, bertandang, atau berkumpul beramai-ramai. Bertamu berjam-jam merupakan hal yang biasa. Jarang orang Melayu mau bekerja menurut jadwal waktu yang dibuat.

Dengan kenyataan ini, berdagang sesungguhnya bukanlah matapencaharian orang Melayu. Mereka lebih banyak hidup sebagai petani dan nelayan. Mereka lebih menitikberatkan pada masalah-masalah roh dan sosial, sehingga tidak banyak mengenal peran uang. Dalam kehidupan ekonomi Melayu, dominasi Cina sangat terasa.

  • Agama Dan Adat Orang Melayu

Sistem budaya yang paling berpengaruh terhadap kehidupan orang Melayu adalah agama dan adat-istiadat. Agama merupakan sumber adat-istiadat orang Melayu, sekalipun dalam kenyataan tidak sama persis. Berbeda dengan datangnya Islam di Timur Tengah dan di Spanyol yang bersifat konstruktif, sehingga kebiasaan-kebiasaan agama lama sebelum kedatangan Islam terkikis habis, di Melayu, budaya pra-Islam tetap menunjukkan bentuknya. Membaurnya Islam dan pra-Islam disebut dengan sinkretisme. Artinya, upacara-upacara adat pra-Hindu, Hindu, dan Budha masih tetap bertahan, meskipun Islam diterima sebagai agama tauhid.

Sebelum Islam datang, persekutuan desa di Melayu masih merupakan pergaulan orang hidup dan roh manusia yang sudah mati. Oleh karena itu, kekuatan roh dan dewa masih dianggap sebagai pelindung desa. Masyarakat memohon keselamatan kepada Tuhan sekaligus kepada kekuatan-kekuatan gaib lainnya. Dalam kehidupan desa, kekuatan magi bersekutu dengan religi. Kekuatan-kekuatan magis dan roh merupakan kekuatan hidup yang mempengaruhi kehidupan sosial. Adat-istiadat lama masih tetap bertahan dalam kehidupan Melayu, sehingga upacara-upacara magi dan tauhid sulit dibedakan. Corak magis animisme, Hindu, dan tauhid tidak dapat disatukan dalam agama Islam, sehingga semua saling mengisi.

Kepercayaan akan kekuatan benda-benda kerajaan, batu akik, makam raja, dan mantra yang mempunyai kekuatan melindungi masih hidup di Melayu. Peran dukun yang menggunakan ayat-ayat Al Quran dan mantra-mantra lain mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat Melayu. Peran dukun ini dapat digantikan oleh alim ulama, sehingga dikenal dukun hitam dan dukun putih.

Secara mitologis, adat Riau bersumber dari adat Tumenggung dan adat Pepatihan. Tumenggung adalah putra raja dari istri bangsawan dan Pepatihan adalah putra raja dari istri orang biasa. Kedua adat ini mempunyai cara dan teritorial yang berbeda. Adat Tumenggung berada di pantai-pantai timur Sumatera dan bersifat patrilineal, sedangkan adat Pepatihan berada di pedalaman Sumatera dan bersifat matrilineal. Adat ditujukan sebagai pedoman sosial untuk menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat sebagai alat pembentuk solidaritas dan sebagai alat memimpin dalam melaksanakan pemerintahan dan pengaturan sosial serta seni budaya.

Adanya adat menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial mulai dari raja dan sultan di tingkat atas, anak-anak raja, orang-orang baik, sampai orang kebanyakan. Beberapa upacara adat yang jelas tampak antara lain pada upacara perkawinan yang terdiri dari meresek, meminang, antaran belanja, mandi berlangir, upacara berandam, berinai, akad nikah, dan baru acara agama. Walaupun sudah melaksanakan akad nikah, pengantin laki-laki belum bersatu dengan pengantin perempuan, dan pengantin laki-laki diantar pulang ke rumahnya untuk mengikuti puncak acara adat, yaitu bersanding yang diiringi dengan bunyi-bunyian. Sebelum acara bersanding, ditampilkan upacara silat, perang tanding beras kunyit, merobohkan kubu yang disertai dengan pantun-pantun, upacara saling menyuap makanan, upacara mandi taman, dan makan nasi damai. Upacara menujuh bulan atau upacara lenggang perut yang juga disebut menyirih atau upah bidan diturunkan oleh adat Melayu.


  • Bahasa

Dialek Melayu Lokal di Indonesia merupakan dialek lokal terbanyak. Jumlahnya mencapai 46 dialek termasuk bahasa Indonesia sendiri yang diakui sebagai bahasa resmi di negara itu. Berikut daftar nama-nama dialek tersebut:

  1. Bahasa Indonesia
  2. Banjar
  3. Bengkulu
  4. Enim
  5. Kaur
  6. Kerinci
  7. Kubu
  8. Lematang
  9. Lembak
  10. Lintang
  11. Loncong
  12. Lubu
  13. Melayu Bacan
  14. Melayu Berau
  15. Melayu Bukit
  16. Melayu Jambi
  17. Melayu Kota Bangun Kutai
  18. Melayu Loloan/Bali
  19. Melayu Makasar
  20. Melayu Maluku Utara
  21. Melayu Satun
  22. Melayu Tenggarong Kutai
  23. Musi
  24. Ogan
  25. Palembang
  26. Pasemah
  27. Penesak
  28. Rawas
  29. Ranau
  30. Semendo
  31. Serawai
  32. Sindang Kelingi
  33. Suku Batin
  34. Dialek Anak Dalam
  35. Dialek Asahan
  36. Dialek Bangka-Belitung
  37. Dialek Bengkulu
  38. Dialek Deli
  39. Dialek Ketapang
  40. Dialek Landak
  41. Dialek Langkat
  42. Dialek Pontianak
  43. Dialek Riau Daratan(1)
  44. Dialek Riau(1)
  45. Dialek Sambas
  46. Dialek Tamiang

2. Tokoh Utama

  • Tokoh adalah seseorang yang terkemuka atau kenamaan di bidangnya. Atau seseorang yang memegang peranan penting dalam suatu bidang atau aspek kehidupan tertentu dalam masyarakat. Dalam MelayuOnline.com, yang dimaksudkan tokoh adalah seseorang yang mempunyai peranan dan pengaruh penting dalam suatu bidang tertentu dalam masyarakat Melayu. Seseorang tersebut berasal, dibesarkan, dan hidup dalam lingkungan masyarakat atau puak Melayu. Kehidupannya ia dedikasikan untuk mengkaji, meneliti ataupun menyumbangkan saran dan pemikiran untuk kemajuan dan kegemilangan tamadun Melayu. Pemikiran dan sumbangsihnya pada dunia Melayu, berpengaruh besar pada kehidupan serta memberikan nuansa kebaruan dalam pola berpikir masyarakat ataupun puak Melayu di ranah tertentu. Pemikiran yang dikemukakan dapat memotivasi dan menggiatkan kegiatan berkebudayaan. Tokoh Melayu dalam portal ini dibagi menjadi 2 bagian, masih hidup dan telah wafat. Begitu banyak dan bervariasinya bidang yang menjadi kajian para tokoh, maka klasifikasi tokoh Melayu dalam portal ini didasarkan atas klasifikasi geobudaya.

Salah satu tokoh penting suku melayu aceh, Prof. Dr. Dato` Tan Sri Ismail Hussein


tan-sri-ismail-01Prof. Dr. Emeritus Dato‘ Tan Sri Ismail Hussein.

Tokoh lain adalah

  • Hang Tuah – Hang Jebat
  • Dato Moyang Salleh
  • Mohamad Salleh Perang
  • Mat Salleh
  • Mat Kilau
  • Dol Said
  • Pangiran Shah Bandar Salleh
  • Shamsiah Fekah

3. Sistem Komunikasi

Setidaknya ada dua hipotesis awal yang sama-sama kuat dalam hal tanah asal. Pertama hipotesis yang mengatakan bahwa bahasa Melayu berasal dari Asia Tengah dan yang kedua adalah hipotesis yang menyimpulkan bahwa tanah asal bahasa Melayu berada di salah satu kawasan di Nusantara ini.

Hipotesis yang pertama maupun yang kedua sama-sama berpegang pada data sejarah dan arkeologis. Hanya saja pertanyaannya, adakah hipotesis lain selain kedua hipotesis di atas dan apa argumen yang dipakai? Karena masalah ini berkaitan dengan bahasa, adakah hipotesis tersebut memperhatikan data yang terdapat dalam bahasa yang disimpulkannya?

Hengkangnya kolonialisme dari bumi Melayu membawa perubahan besar terhadap bahasa Melayu. Bahasa Melayu kemudian menjadi perekat bagi elemen-elemen masyarakat dalam mendorong penolakan terhadap kehadiran kembali bangsa Eropa yang hendak menguasai bumi Melayu. Pada masa-masa ini bahasa Melayu susah dipisahkan dari dan memiliki hubungan interaktif dengan dunia politik di masing-masing negeri Melayu.

Bahasa Melayu Riau segera mengalami perkembangan yang pesat setelah berubah status; di Indonesia namanya berubah menjadi bahasa Indonesia. Bukan itu saja, bahasa yang bernama bahasa Indonesia ini berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan perkembangannya, sehingga sama sekali menjadi bahasa yang berbeda dari ‘ibunya’ setelah sekian puluh tahun. Perbedaan ini terlihat jelas apabila bahasa Melayu Riau dibandingkan dengan bahasa Indonesia era pascakemerdekaan terutama setelah adanya pembaruan ejaan. Bahasa Indonesia terus berbenah melalui lembaga-lembaga resmi pemerintah, lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga swasta menuju sebuah bahasa yang mampu mengakomodasi kebutuhan penuturnya yang dapat memiliki (dan dipengaruhi oleh) beragam logat dan pelbagai latar belakang kebahasaan.

Akan halnya di Malaysia, hal hampir serupa pun terjadi. Dengan latar yang sedikit berbeda, bahasa Malaysia tetap bernama bahasa Melayu. Begitu pula dengan bahasa Melayu di Brunei, namanya tidak berubah. Namun seperti di Indonesia, di sana-sini terjadi pergeseran dan penyesuaian pada bahasa itu, untuk menjadi sebuah bahasa yang efektif dan efisien.

4. Hambatan Komunikasi

Konflik antar suku melayu dan suku madure menimbulkan masalah yang berkepajangan dan trauma bagi kedua elah pihak. Seiiring berjalannya waktu semakin banyak pihak-pihak yang ingin mendamaikan kedua belah pihak. Namun pemerintah pemegang otoritas tertingi nampaknya kurang serius dalam menangani masalah ini.

Daerah Kalimantan merupakan wilayahyang heterogen dan tidak mempunyai kebudayaan yang dominan. Sebenarnya kerusuhan antar etnis ini sudah berlangsung lama. Khususnya pertikaian antara melayu dan Madura, tetapi suku melayu yang tidak pernah terkena konflik, ketika kekerasan-kekerasan dan pembunuhan terhadap suku melayu yang beragama islam yang terus dilakukan oleh suku Madura menyebabkan hal ini menjadi dendam yang menumpuk.

Hubungan suku-suku di Kalimantan barat tidak berjalan harmonis pada umumnya khususnya untuk suku Madura (pendatang) dengan suku dayak dan melayu (suku local) . antara suku-suku yang bertikai tidak adanya hubungan yang kerja sama dan gotong royong. Integrasi dan kerja sma tidak terwujud karena adanya konflik cultural ( akibat perangai atau pembawaan suku Madura yang tidak diterima oleh suku-suku lain)

DAFTAR PUSTAKA

Adrianto, T. Tuhana. 2001. Mengapa Papua Bergolak? Penerbit Gama Global Media, Yogyakarta.

Arifin, Anwar. Komunikasi Politik, Pradigma, Teori, Aplikasi, Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia. PT Balai Pustaka, Jakarta.

Fukuyama, Francis. 2000. The Great Disruption, Human Nature and The Reconstitution of Social Order. A Touchstone Book, Published by Simon & Schuster, New York.

Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Kehidupan Sehari-hari Orang Jawa, Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Cetakan kedua. PT Gramedia, Jakarta.

Ngadisah. 2003. Konflik Pembangunan dan Gerakan Sosial Politik. Penerbit Pustaka Raja, Yogyakarta.

Purwasito, Andrik. 2003. Komunikasi Multikultural. Universitas Muhammadiyah, Surakarta.

Rangkuti, H. Sofia. 2002. Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Teori dan Konsep (Edisi Refisi). Dian Rakyat, Jakarta.

Sumule, Agus. 2003. Mencari Jalan Tengah, Otonomi Khusus Provinsi Papua. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2003.

http://www.dmcindonesia.web.id/modules.php?name=News&file=article&sid=562

http://www.kapanlagi.com/h/0000049379_print.html

http://www.pak-soleh.co.cc/2009/07/komunikasi.html

~ by irene clarissa on October 14, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: